H. AS TAMRIN APRESIASI HMI CABANG BAUBAU JADI TUAN RUMAH LK III

Wali Kota Baubau Dr. H. AS Tamrin, MH. memberi apresiasi kepada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Baubau. Apresiasi ini diberikan karena HMI Cabang Baubau telah berhasil mengambil langkah besar untuk menjadi tuan rumah dalam pelaksaan Advance Training (LK III) tingkat Nasional.
 
“Saya merasa bangga, karena ini merupakan sebuah penghargaan bagi Kota Baubau. Untuk itu saya menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara kegiatan ini,” ucap H. AS Tamrin melalui sambutannya saat pembukaan kegiatan tersebut di Hotel Mira Baubau, Senin (11/10/2021)
 
Orang nomor satu di Kota Baubau ini juga menuturkan, tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut sangat relevan dan pantas untuk dibahas di masa kini. Di mana kegiatan mengangkat tema “HMI Kolaboratif, Kepemimpinan di Era Disrupsi 4.0”. menyadari, HMI sejak selalu menyiapkan kader-kadernya untuk mengembangkan diajang perpolitikan di Indonesia.
 
“Kebangkitan Nasional yang dideklarasikan melalui Sumpah Pemuda juga dipelopori oleh generasi muda dari berbagai penjuru tanah Air. Di mana mereka ini pada dasarnya bercerai-berai, namun dipersatukan oleh semangat Nasionalisme. Ada Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Sulawesi, dan lain-lain,” tuturnya.
 
Untuk itu H. AS Tamrin berpesan, agar generasi muda dapat dibekali dengan mental yang baik, sehingga persatuan yang telah terjalin dapat terus dijaga dan dipelihara. berharap agar agar Disrupsi 4.0 tersebut dapat dicapai agar tidak ada lagi tendensi untuk saling bercerai-berai yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.   
 
“Kalau waktu itu disebut sebagai Kebangkitan Nasional maka apa yang kita lakukan hari ini juga merupakan kebangkitan, dengan memahami apa itu Disrupsi 4.0. Dalam paradigma bahasa kemajuan peradaban, disebut dengan istilah Revolusi Industri 4.0, yang merupakan perlombaan industri yang ditopang dengan Teknologi Informasi yang lebih canggih,” ujarnya.
 
Wali Kota dua periode ini menambahkan, selain dampak positif, Revolusi Industri 4.0 tersebut juga menimbulkan dampak negatif dengan timbulnya carut-marut di berbagai belahan dunia. Untuk itu, perlu Revolusi Mental sebagaimana didengungkan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H Joko Widodo, agar di Indonesia tidak terjadi carut-marut seperti di beberapa negara lainnya.
 
“Kalaulah Revolusi Industri ini kita tidak waspadai, maka tidak menutup kemungkinan ke depannya akan terjadi perang dunia ke 3. Itu pasti, kalau semangat perlombaan dan persaingan ini selalu merangsang, sementara Moral dan Akhlak telah ditinggalkan. Intinya adalah kita harus kembali pada moral, tidak salah kalau bapak Presiden kita mencanangkan Revolusi Mental,” imbuhnya. 
 
Lebih lanjut H. AS Tamrin mengungkapkan, untuk di Kota Baubau, instrumen dari Revolusi Mental tersebut adalah nilai-nilai budaya yang disebut dengan PO-5. Di mana, nilai-nilai budaya tersebut merupakan warisan leluhur masyarakat kesultanan Buton yang dielaborasinya dari Sara Pataanguna. Untuk itu pihaknya berharap, agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
“Warisan luhur ini bertujuan, agar generasi muda Buton tidak salah jalan, dengan tetap menjaga moral dan akhlaknya di mana pun berada. Saya juga berharap, agar sebagai generasi penerus, para kader HMI dapat memiliki kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual. Sehingga dalam memberikan saran dan masukan terhadap Pemerintah, HMI tetap mengedepankan sopan santun dan rasa nyaman,” pungkasnya.
 
Sementara itu, Presidium Majelis Daerah Korps Alumni HMI (KAHMI) Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse, saat mewakili Presidium Majelis Wilayah KAHMI) Sulawesi Tenggara mengingatkan, agar para peserta LK III serta pengurus HMI Cabang Baubau untuk kembali mengingat sejarah kelahiran HMI pada Tahun 1947, atau 2 Tahun setelah Indonesia merdeka.
 
“Kita harus ingat bahwa HMI ini adalah anak kandung bangsa ini, karena lahir bersama dengan dinamika Proklamasi. Di mana, setelah proklamasi, kekuatan negara asing masih terus melakukan upaya-upaya untuk merongrong kemerdekaan itu. Dan HMI bersama-sama kekuatan bangsa lainnya melakukan perlawanan secara intelektual untuk mempertahankan kemerdekaan itu,” ujarnya.
 
La Ode Ahmad Monianse menekankan, agar sejarah lahirnya HMI tersebut terus diingat oleh semua kader. Pasalnya, HMI didirikan dengan dua tujuan, yaitu HMI harus menjadi kader bangsa, sehingga keindonesiaannya harus jelas dan kokoh. Selain itu, HMI juga harus menjadi kader umatan, sehingga keislaman dan sanad keilmuannya juga harus jelas.
 
“Sebagai kader umat, HMI haru bisa menjadi pilar dalam membangun persatuan umat, dan sebagai kader bangsa, HMI bersama komponen bangsa lainnya dituntut untuk terus menjaga kebinekaan bangsa ini untuk terus bersatu membangun bangsa. Dua komponen ini menjadi tugas utama kita, dan untuk bisa menjalankan fungsi yang kedua ini, maka kita harus belajar membenahi diri untuk bersatu,” tandasnya.
 
Menurutnya, fungsi kedua tersebut tidak akan bisa dijalankan, jika dalam tubuh organisasi masih terjadi carut-marut karena adanya dualisme kepengurusan. Pihaknya menyadari, dalam tubuh organisasi HMI khususnya Cabang Baubau masih terjadi dualisme kepengurusan. Untuk itu pihaknya berharap, agar melalui kegiatan LK III tersebut, para kader kembali memahami tentang bagaimana HM tersebut lahir.
 
“Harapan kita adalah, agar melalui kegiatan ini, para kader kembali belajar untuk memahami bagaimana HMI ini lahir. Para pendiri telah berdarah-darah untuk membentuk organisasi ini, kemudian mereka mempertahankannya dari sekian episode sejarah HMI hingga hari ini. Lalu kita yang tidak memahami itu mencoba mencabik-cabik HMI dari berbagai sisi,” tuturnya.
 
Mewakili Presidium Majelis Wilayah La Ode Ahmad Monianse berpesan, agar kegiatan LK III tersebut tidak hanya menjadi formalitas untuk mendapatkan sertifikat Advance Training. Namun lebih dari itu,  para kader yang keluar dari Advance Training tersebut benar-benar memiliki pemahaman yang utuh dan kuat tentang HMI, sehingga tradisi intelektual HMI dapat dikembalikan seperti semula.
 
“Tradisi intelektual HMI itu adalah diskusi dan menulis, bukan berpecah belah. Bahkan akan lebih baik nanti pada saat pemilihan ketua HMI itu tidak hanya menjejer sekian banyaknya sertifikat pengaderan. Namun sedapat mungkin, kita harus mempunyai kemampuan literasi digital yang baik, karen kita saat ini berada di era Disrupsi 4.0,” ungkapnya.
 
Ditambahkan, sebagai kader bangsa, HMI selalu diharapkan kehadirannya untuk memberikan solusi terhadap segala persoalan yang dihadapi oleh bangsa. Untuk itu pihaknya juga berharap, agar kurikulum pengaderan di HMI dapat diubah ke depannya. Pasalnya, kurikulum yang digunakan selama ini sudah tidak relevan lagi dengan zamannya.  
 
“Kenapa kita tidak mencari solusi terbaik yang bersifat aplikatif, sehingga kader HMI benar-benar menjadi kader unggulan yang berbeda dengan kader dari organisasi kepemudaan lainnya. Jujur saya melihat hari ini animo kita untuk ber HMI sudah semakin rendah, saya berani mengatakan ini karena saya pernah berada di zaman tertentu dan paham bagaimana dinamika ber HMI,” imbuhnya.
 
“Coba HMI cari pola lain, karena HMI lahir dengan tradisi akademik dengan model diskusi. Kalau misalnya ada saran masukan untuk pemerintah saya kira cara yang terbaik adalah diskusi. Karena muaranya adalah untuk memberikan solusi. Apa bedanya dengan demo, namun lebih baik lagi jika kita menyampaikan dengan cara yang lebih baik,” tutupnya.
 
 
Penulis : RAZAK
Foto/Peliput : SAMSUDIN
Redaktur : MUH SAID IDU
Produksi : DINAS KOMINFO BAUBAU
Penanggung Jawab : LA ODE DARUSALAM , S.Sos., M.Si. (Kepala Dinas KOMINFO Baubau)
  • By Razak, S.Pd.
  • Rabu 10 2021
  • 62
  • BERITA

Komentar

Media heading 5 hours ago / Reply

Donec id elit non mi porta gravida at eget metus. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus. Etiam porta sem malesuada magna mollis euismod. Donec sed odio dui.



Tinggalkan Komentar

Mohon berkomentarlah dengan sopan dan santun serta tidak mengandung unsur SARA, isi komentar adalah tanggungjawab penulis komentar