WALI KOTA BAUBAU APRESIASI PEMBENTUKAN KERAPATAN KELUARGA WAJO SERUMPUN

BAUBAU - Pembentukan Keluarga Wajo Serumpun mendapat apresiasi dari Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse yang hadir langsung saat pengukuhan Kerapatan Keluarga Wajo Serumpun di gedung graha puspa Minggu (31/7/2022).

Menurut La Ode Ahmad Monianse, gagasan membentuk Kerapatan Keluarga Wajo Seurmpun ini merupakan gagasan membangun kesadaran baru untuk menghimpun masyarakat Wajo di dalam sebuah kerukunan dan sebuah kerapatan. Dan hal yang menjadi kesyukuran bahwa ini adalah potensi besar karena dengan tidak mengenyampingkan kelompok-kelompok lain, Komunitas Wajo masih memberikan kontribusi besar kepada daerah ini, mulai dari stock kepemimpinan sampai pengawalan kebijakan.“Alhamdulillah hari ini sudah bisa kita saksikan. Makanya saya katakan tadi akan sangat sulit kami untuk memberikan urutan penghormatan, karena hadir hari ini ada 5 ketua DPRD. Ketua DPRD  yang masih aktif, pak H. Zahari, ada ketua DPRD semasa dengan saya pak Drs H Hasidin Sadif, ada senior kita pak Drs H Siradjuddin Anda, ada juga pak Kamil Adi Karim ketua DPRD, ada ibu Wa Ode Maasra juga saya dengar hadir bersama kita. Jadi rasa-rasanya kalau dari sisi protokoler kehormatan, kita harus hormat dari sisi mana. Kalau berdasarkan adat Buton, kita liat dari umur. Kalau dulu Lakina Sampolawa dengan Lakina Lia itu duduk di ujung sidang. Siapa yang di kanan siapa yang di kiri, dengan siapa yang tertua di masa itu. Jad saya kira itulah sebagai kearifan untuk bisa meletakkan rasa hormat itu. Jadi saya kira kearifan-kearifan yang selama ini tumbuh dan berkembang di daerah kita sudah saatnya kita galih kembali, kita pelihara, Kita jadikan panutan dan terus kemudian kita lestarikan dan kita wariskan kepada generasi kita,”ujarnya.

Namun demikian orang nomor satu di Kota Baubau ini berpesan agar mudah-mudahan dengan pembentukan kerapatan keluarga ini bukan hal yang berlebihan bahwa euforia untuk membuat kerapatan tidak disertai dengan lahirnya sebuah chauvinisme. Chauvinisme itu mungkin akan lebih tepat bila di kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi juga bisa diturunkan levelnya pada kelompok artinya tidak melihat kelompok lain lebih kecil dari kelompoknya atau tidak melihat kelompok lain itu lebih sederhana. Pasalnya, kadang-kadang ini tidak disadari ketika suatu kelompok tertentu berkelompok, berserikat, menghimpun kemudian menganggap lainnya kecil dan menganggap lainnya tidak bermakna. Akan tetapi, pihaknya percaya atas arahan dan bimbingan orang-orang tua semangat perhimpunan, semangat kerapatan yang hari ini dilahirkan oleh generasi muda Wajo adalah kerapatan yang didedikasikan untuk sebuah lembaga agar tumbuh kembangnya nilai-nilai budaya lokal yang sangat luhur itu bisa kembali dilestarikan.

Kemudian, La Ode Ahmad Monianse juga ingin menawarkan dengan melihat potensi kerapatan Wajo ini maka sudah saatnya untuk membangun zawiya yang mungkin tidak dalam bentuk fisik, tapi menjadi sebuah kelembagaan yang akan menjadi motor, penggerak untuk tumbuhnya kesadaran baru terhadap banyaknya  nilai-nilai luhur yang pernah tumbuh dan berkembang dijadikan landasan, baik di pemerintahan maupun bermasyarakat di masa lalu untuk kemudian ditumbuh kembangkan di saat ini. “Saya kira masih ada. Dengan teknologi digital ini, saya kira kita bisa menerima beberapa pembelajaran dari tokoh-tokoh. Saya kira kita masih bisa membantu zawiya di Wajo karena sumber atau narasumber itu masih banyak, ketokohan itu masih banyak. Orang-orang yang paham itu masih banyak. Dan yang saya maksud dengan Zawiyah ini bukan Zawiyah dalam bentuk bukan fisiknya, tapi semangat untuk membuat sebuah kelembagaan pendidikan. Pendidikan nilai-nilai luhur. Ada dengan sistem zoom, saya kira kerapatan generasi muda Wajo bisa secara berkala mungkin dua kali sebulan ada zoom dengan narasumber. Sehingga tentu kita atau kami yang berada di Wajo, di luar wajo, bahkan di luar kota Baubau bisa secara seksama mengikuti perkembangan dan sumber-sumber kesejarahan, sumber-sumber nilai luhurnya yang terus tersampaikan kepada kita semua. Olehnya itu maka cita-cita kita untuk membantunya Zawiyah dalam pengertian yang lebih modern, yang lebih luas dan tidak dibatasi oleh sekat-sekat ruang, dan memanfaatkan teknologi sebagai medianya saya kira bisa kita lakukan. Bicara tentang sejarah, bicara tentang nilai-nilai lokal, nilai budaya, nilai-nilai luhur termasuk bicara tentang persoalan-persoalan siklus kehidupan lainnya. Mulai dari hidup sampai kapan mati, saya kira banyak sekali nilai-nilai luhur yang pernah dipraktekkan oleh nenek-nenek moyang kita, oleh orang-orang tua kita, saat seorang lahir kemudian sampai kemudian meninggalkan dunia banyak sekali kebudayaan-kebudayaan yang terus berkembang yang dipraktekkan,”ungkapnya.

Saat ini menurut La Ode Ahmad Monianse, sudah banyak generasi yang tidak mengenal, tidak memahami sebuah nilai budaya dan sejarah bukanlah sebuah sesuatu untuk mengangkat secara berlebihan namun penting untuk diketahui karena itu untuk mengukur semangat perjuangan. Mengapa Jepang begitu cepat menyelesaikan urusannya setelah bom Hiroshima, karena mereka didoktrin dengan nilai-nilai luhur, didoktrin dengan sebuah semangat bahwa mereka adalah turunan raja matahari. Bagaimana saudara-saudara yang ada di selatan, kemudian mempunyai kecepatan militansi di sektor perdagangan perdagangan, karena mereka juga didoktrin mereka datang, turun dari langit. Karena nilai-nilai seperti itu tidak berlebihan tapi juga penting untuk dikompakkan oleh generasi. Begitu juga dari Buton itu. Mengapa kita tidak mempunyai semangat juang untuk jadi seorang komandan karena kadang-kadang kita atau bahkan kita pernah dibuat untuk tidak jadi komandan, ini harus dikembalikan kesadarannya. Sesungguhnya orang Buton itu seperti apa, kekayaan, budayanya seperti apa, lebih penting diketahui oleh generasi berikutnya. Karena nilai ini besar manfaatnya untuk memacu, memicu semangat mereka untuk lebih survive. Kita belajar dari bangsa-bangsa besar. Mereka memanfaatkan nilai-nilai luhur untuk mengompakkan semangat juang kepada generasi-generasi berikutnya. Dan ini dengan kesadaran baru kita bangkit, tiupkan kembali roh perjuangan orang-orang tua kita, siapa orang Buton itu, bagaimana orang Buton itu, bagaimana keluhurannya, bagaimana tingginya peradabannya, ini harus diwariskan. “Di zaman tahun 2022 ini kira-kira apa yang bisa dibanggakan, apa yang bisa diceritakan oleh 200 tahun yang akan datang oleh generasi berikutnya. Kalau leluhur kita sudah. Mereka sudah dengan senyum manisnya di bagian pemberhentian sudah mengatakan pewaris saya masyarakat Buton sudah dengan singkat buah kebesaran kami. Kita yang hari ini belum. Kalau kita ingin bandingkan. Sehingga kalau kita merapatkan ketinggian peradaban itu mestinya harus menjadi pemompa semangat. Sebagaimana bangsa Jepang dan bangsa-bangsa lainnya menyemangati generasinya dengan nilai-nilai luhur, dan ketinggian peradaban bangsa. Jadi saya berharap mudah-mudahan ini sebuah kebangkitan kebudayaan, sebuah kebanggaan nilai-nilai luhur diawali dari Wajo. Mudah-mudahan dari Wajo lah kemudian menyinari semangat kita untuk kembali mencintai nilai-nilai peradaban kita ini. Untuk kemudian kita wariskan dan kemudian menjadikan bekal generasi berikutnya, melanjutkan kebesaran Buton dalam artian luas khususnya untuk kebudayaan Buton dalam artian baubau ini yang mungkin harus kita pikirkan bersama-sama,” tutupnya.***

 

Penulis          : TIM REDAKTUR
Foto/Peliput  : SAMSUDIN
Redaktur       : MUH SAID IDU (Kabid PIK)
Produksi        : DINAS KOMINFO BAUBAU
Penanggung Jawab : LA ODE DARUSALAM , S.Sos., M.Si. (Kepala Dinas KOMINFO Baubau)

  • By Muhammad Said Idu
  • Senin 08 2022
  • 29
  • BERITA

Komentar

Media heading 5 hours ago / Reply

Donec id elit non mi porta gravida at eget metus. Fusce dapibus, tellus ac cursus commodo, tortor mauris condimentum nibh, ut fermentum massa justo sit amet risus. Etiam porta sem malesuada magna mollis euismod. Donec sed odio dui.



Tinggalkan Komentar

Mohon berkomentarlah dengan sopan dan santun serta tidak mengandung unsur SARA, isi komentar adalah tanggungjawab penulis komentar